Organisasi
islam ini ternyata tidak berlingkup disekolah saja, namun juga memiliki
jangkauan kabupaten bahkan provinsi. Kalau di kabupaten dinamakan ASSALAM
pesisir selatan (karena aku berasal dari pesisir selatan), dan jika di provinsi
dinamakan ASSALAM sumatera barat. Sedangkan ASSALAM itu sendiri merupakan
Associasi pelajar Islam yang bermottokan “Bersatu Menjalin Ukhwah”.
Kenal
dengan ASSALAM merupakan suatu kebanggaan bagiku, karena selain hadirnya hidayah disini, teman2 juga
semakin banyak saja. Ya, hadirnya Hidayah.
Ketika
itu Assalam sumatera Barat mengadakan Acara yang bernama RADAR 3 yang berpusat
di padang. Acara yang belum pernah aku ikuti sebelumnya, aku tak tau mau
ngapain disini. Nyampe ditempat acara, aku dihadapkan dengan Pandangan yang
asing bagiku, karena yang hadir disana adalah para perempuan2 jeli, yang anggun
dengan jilbab besarnya yang longgar dan menjuntai. Sejuk J
, damai, indah, itu yang kurasakan ketika itu. “masyaa Allah, anggun sekali”,
itulah kata-kata yang terlontar ketika aku menyaksikan mereka yang asyik dengan
jilbab lebarnya. Ku mulai memandangi diriku, malu ketika yang kusaksikan pada
diriku hanya sehelai kain yang transparan, pendek yang tidak cocok dibilang
jilbab.
Rasa
malu yang menggelayuti itu, mendorong aku untuk mengubah stylis ku selama acara
itu berlangsung, ya awalnya hanya untuk 3 hari saja. Namun, setelah 3 hari
berlalu, ternyata ia mampu mengubah mindset dan cara pandangku dalam berprinsip
tentang jilbab, hingga tekadpun keluar. Tekad untuk memakai jilbab yang lebar
dan menjuntai (red : syar’i).
Tak
semudah membalikan telapak tangan untuk mengubah sebuah prinsip. Banyak
tantangan yang mengiringi suatu prinsip yang sudah ditanamkan. Begitupun dengan
prinsip jilbab yang kutanamkan. Banyak tantangan yang kuhadapi ketika jilbab ku
disaksikan oleh masyarakat sekolah. Bukan dukungan teman2 yang kuterima ketika
kembali lagi kesekolah, tapi cemooh teman2 yang menghujat dari setiap sisi. Aku
hanya diam, dengan ilmu yang belum seberapa, aku tak berani menjawab segala
hujatan yang dilemparkan teman2 kepadaku. Tapi, hal ini tak menyurutkan
langkahku untuk bisa mempertahankan jilbab syar’i yang kukagumi itu. Aku tetap
berfikiran positif”mungkin mereka belum tau”.
Tantangannya
gak sampai disitu, bahkan dari sekian banyak majlis guru yang baik dan
mendukung perubahanku, ternyata ada juga yang tidak senang. Ketidak senangannya
ini diperlihatkan ketika beliau mengajar dikelas. Namun, dengan prestasi
dimunculkan, alhamdulillah sedikit demi sedikit sikap beliau berubah menjadi
lebih baik.
Hari
demi hari semuanya berubah menjadi lebih baik, Alhamdulillah. Mulai dari guru
yang mulai peduli sampai keteman2 yang mulai berbagi dan sharing tentang
keagamaan-jadi tempat konsul niiii J -. Senang
memang ketika Allah telah melihatkan keagungannya, janji Allah itu Pasti.
Kebenaran itu pasti akan diterima, mesikpun ada tantangan yang musti dilalui
terlebih dahulu.
Ketika
diri sudah bertekad untuk berubah kearah yang lebih baik (red : hijrah), maka
yang berubah itu tidak hanya style saja, namun semuanya musti dirubah, mulai
dari sikap sampai pola pikir. Disinilah
aku kenal dengan mentoring, nama umumnya adalah tarbiyah. Tarbiyah dapat
melatih dan mendidik pola pikirku untuk menjadi lebih baik lagi. Aku merasakan
ada magnet ditarbiyah ini, aku sangat membutuhkannya, hari ini hingga nyawa tak
dibadan lagi semoga tekad tetap berpadu dalam lingkar tarbiyah, aamiin..
Mungkin
banyak yang bertanya “kok bisa segitunya dengan tarbiyah, mang tarbiyah itu
gimna sih?”. Tarbiyah tidak ngapa2in kok, tarbiyah adem2 saja, namun ketika
sudah masuk kesana, ada faktor X yang tidak diketahui kenapa kita betah disana.
Kunci untuk mengetahui, masuk dulu-amati-pelari-rasakan-nikmati. Kebetahan
ditarbiyah akan mengantarkan kita untuk betah dengan jilbab yang dikenakan.
Ketahuilah,
sungguh banyak orang yang ingin berjilbab syar’i, tapi alasan “belum siap”
mengalahkan keinginannya, trus siapnya
kapa?-pertanyaan besar.
Banyak
orang yang sudah mulai berjilbab syar’i, namun luntur ketika merasa terasing
dilingkungannya.
Banyak
orang sudah berjilbab syar’i di luarsana, yang dalam mempertahankan jilbabnya
penuh dengan tantangan dan rintangan. Jadi, jangan khawatir ketika engakau
memiliki masalah tetntang jilbab. Kita disini (:berjilbab syar’i) tidak hanya
sendiri, kita punya orang-orang yang luar biasa diman-dimana, jangan merasa
sendiri ketika cobaan dalam mempertahankan jilbab menimpa diri.
Takut
dengan hujatan “jilbabkan dulu hatimu, baru kepala mu”, aku mengatakan “gak
usah takut,sampai kapan hati mau di jilbabkan?”-pertanyaan besar.
Takut
dengan kata2 “jilbab besar, tapi tingkah bermasalah”, aku jawab “tidak apa,
learning by doing, “. Bukan dengan menanggalkan jilbab kita bisa memperbaiki
sikap dan tingkah kita, tapi dengan berjilbab kita bisa selalu mengintropeksi
diri untuk bisa bersikap lebih baik lagi.
Setiap
baja, agar bisa dibentuk, ia membutuhkan tekanan. Begitupun kita, jadikan
tekana dan hujatan sebagai bekal diri untuk menjadi lebih tegar lagi. –untuk
Agama Allah-.
wallahu’alam
bishshawab

Tidak ada komentar:
Posting Komentar