Senin, 28 September 2015

Aku dan jilbabku





Waktu itu pendidikan baru sampe kelas x atau tepatnya kelas 1 SMA semester 2. Organisasi keislaman yang dikenal ROHIS itu menarik minat ku untuk bisa bergabung disana. “Anak Rohis” itulah gelar yang diperoleh jika sudah bergabung disana, perhatian khusus tertuju kepada mereka yang menyandang gelar itu. Mulai dari sikap kesehariannya hingga prestasinya disekolah menjadi perhatian semua orang. Menjadi suatu kebanggaan memang, ketika semua anak rohis itu menjadi teladan bagi siswa/i lainnya. Tak dimungkiri semua anak rohis bisa dikategorikan sebagai siswa/i berprestasi, wallahu’alam tapi inilah kondisi ketika itu.
Organisasi islam ini ternyata tidak berlingkup disekolah saja, namun juga memiliki jangkauan kabupaten bahkan provinsi. Kalau di kabupaten dinamakan ASSALAM pesisir selatan (karena aku berasal dari pesisir selatan), dan jika di provinsi dinamakan ASSALAM sumatera barat. Sedangkan ASSALAM itu sendiri merupakan Associasi pelajar Islam yang bermottokan “Bersatu Menjalin Ukhwah”.
Kenal dengan ASSALAM merupakan suatu kebanggaan bagiku, karena selain hadirnya hidayah disini, teman2 juga semakin banyak saja.  Ya, hadirnya Hidayah.
Ketika itu Assalam sumatera Barat mengadakan Acara yang bernama RADAR 3 yang berpusat di padang. Acara yang belum pernah aku ikuti sebelumnya, aku tak tau mau ngapain disini. Nyampe ditempat acara, aku dihadapkan dengan Pandangan yang asing bagiku, karena yang hadir disana adalah para perempuan2 jeli, yang anggun dengan jilbab besarnya yang longgar dan menjuntai. Sejuk J , damai, indah, itu yang kurasakan ketika itu. “masyaa Allah, anggun sekali”, itulah kata-kata yang terlontar ketika aku menyaksikan mereka yang asyik dengan jilbab lebarnya. Ku mulai memandangi diriku, malu ketika yang kusaksikan pada diriku hanya sehelai kain yang transparan, pendek yang tidak cocok dibilang jilbab.
Rasa malu yang menggelayuti itu, mendorong aku untuk mengubah stylis ku selama acara itu berlangsung, ya awalnya hanya untuk 3 hari saja. Namun, setelah 3 hari berlalu, ternyata ia mampu mengubah mindset dan cara pandangku dalam berprinsip tentang jilbab, hingga tekadpun keluar. Tekad untuk memakai jilbab yang lebar dan menjuntai (red : syar’i).
Tak semudah membalikan telapak tangan untuk mengubah sebuah prinsip. Banyak tantangan yang mengiringi suatu prinsip yang sudah ditanamkan. Begitupun dengan prinsip jilbab yang kutanamkan. Banyak tantangan yang kuhadapi ketika jilbab ku disaksikan oleh masyarakat sekolah. Bukan dukungan teman2 yang kuterima ketika kembali lagi kesekolah, tapi cemooh teman2 yang menghujat dari setiap sisi. Aku hanya diam, dengan ilmu yang belum seberapa, aku tak berani menjawab segala hujatan yang dilemparkan teman2 kepadaku. Tapi, hal ini tak menyurutkan langkahku untuk bisa mempertahankan jilbab syar’i yang kukagumi itu. Aku tetap berfikiran positif”mungkin mereka belum tau”.
Tantangannya gak sampai disitu, bahkan dari sekian banyak majlis guru yang baik dan mendukung perubahanku, ternyata ada juga yang tidak senang. Ketidak senangannya ini diperlihatkan ketika beliau mengajar dikelas. Namun, dengan prestasi dimunculkan, alhamdulillah sedikit demi sedikit sikap beliau berubah menjadi lebih baik.
Hari demi hari semuanya berubah menjadi lebih baik, Alhamdulillah. Mulai dari guru yang mulai peduli sampai keteman2 yang mulai berbagi dan sharing tentang keagamaan-jadi tempat konsul niiii J -. Senang memang ketika Allah telah melihatkan keagungannya, janji Allah itu Pasti. Kebenaran itu pasti akan diterima, mesikpun ada tantangan yang musti dilalui terlebih dahulu.
Ketika diri sudah bertekad untuk berubah kearah yang lebih baik (red : hijrah), maka yang berubah itu tidak hanya style saja, namun semuanya musti dirubah, mulai dari sikap sampai pola pikir.  Disinilah aku kenal dengan mentoring, nama umumnya adalah tarbiyah. Tarbiyah dapat melatih dan mendidik pola pikirku untuk menjadi lebih baik lagi. Aku merasakan ada magnet ditarbiyah ini, aku sangat membutuhkannya, hari ini hingga nyawa tak dibadan lagi semoga tekad tetap berpadu dalam lingkar tarbiyah, aamiin..
Mungkin banyak yang bertanya “kok bisa segitunya dengan tarbiyah, mang tarbiyah itu gimna sih?”. Tarbiyah tidak ngapa2in kok, tarbiyah adem2 saja, namun ketika sudah masuk kesana, ada faktor X yang tidak diketahui kenapa kita betah disana. Kunci untuk mengetahui, masuk dulu-amati-pelari-rasakan-nikmati. Kebetahan ditarbiyah akan mengantarkan kita untuk betah dengan jilbab yang dikenakan.
Ketahuilah, sungguh banyak orang yang ingin berjilbab syar’i, tapi alasan “belum siap” mengalahkan  keinginannya, trus siapnya kapa?-pertanyaan besar.
Banyak orang yang sudah mulai berjilbab syar’i, namun luntur ketika merasa terasing dilingkungannya.
Banyak orang sudah berjilbab syar’i di luarsana, yang dalam mempertahankan jilbabnya penuh dengan tantangan dan rintangan. Jadi, jangan khawatir ketika engakau memiliki masalah tetntang jilbab. Kita disini (:berjilbab syar’i) tidak hanya sendiri, kita punya orang-orang yang luar biasa diman-dimana, jangan merasa sendiri ketika cobaan dalam mempertahankan jilbab menimpa diri.
Takut dengan hujatan “jilbabkan dulu hatimu, baru kepala mu”, aku mengatakan “gak usah takut,sampai kapan hati mau di jilbabkan?”-pertanyaan besar.
Takut dengan kata2 “jilbab besar, tapi tingkah bermasalah”, aku jawab “tidak apa, learning by doing, “. Bukan dengan menanggalkan jilbab kita bisa memperbaiki sikap dan tingkah kita, tapi dengan berjilbab kita bisa selalu mengintropeksi diri untuk bisa bersikap lebih baik lagi.
Setiap baja, agar bisa dibentuk, ia membutuhkan tekanan. Begitupun kita, jadikan tekana dan hujatan sebagai bekal diri untuk menjadi lebih tegar lagi. –untuk Agama Allah-.
wallahu’alam bishshawab


Tidak ada komentar: