Lama
berkecimpung didunia aktivis menjadikan diri ini jauh lebih baik in syaa Allah
dari pada diri ketika cinta itu diperkenalkan. Cinta dimana dulu berserakan
dimana-mana, diobral kesana kemari layaknya sebuah dagangan yang tidak laku
terjual. Takut untuk tidak mendapatkan pendamping yang baik untuk menuju syurga-Nya
menjadi salah satu alasan kenapa yang bernama Pacaran itu hadir disela-sela
waktu luang yang ketika itu bisa saja dikatakan tidak terlalu berluang juga,
karena memang kesibukan disekolah belum terlalu memadai untuk bisa
menghilangkan kejenuhan. Ya, pacaran lah salah satu wadahnya. Bodoh memang
ketika diri ini memutuskan untuk mengenali yang bernama pacaran itu, karena
setelah difikir ulang, tak ada untungnya ketika kita menjalaninya, malah
kerugian yang menimpa. Karena harga diri seorang perempuan terletak disetiap
sisi tubuhnya, jika salah satunya sudah diambil maka yang lainnya tidak
berharga lagi, layaknya sebuah telur yangmana jika sudah retak maka ia tidak
akan dibeli lagi oleh orang.
Hadir
dan ikut berkontribusi dijalan dakwah ini, mengajarkan arti cinta yang
sesungguhnya. Rasa cinta yang hadir hari ini sebenarnya milik siapa dan untuk
siapa, wajar atau kah tidak. Disinilah aku menemukan penawar semua itu. Karena
rasa cinta yang fitrah ini tidak bisa disalahkan kenapa ia hadir begitu saja. Kita
adalah manusia, wajar ketika perasaan itu hadir silih berganti. Fatimah, Anak
Rasulullah SAW saja memiliki rasa cinta kepada ali. Namun disinilah
keunikannya, ia mencintai seseorang, tapi orang lain bahkan syaitanpun tidak
mengetahui bahwa ia sedang jatuh cinta, ini disebabkan karena ia pandai menepis
rasa cinta yang hadir ketika itu. Seharusnya begitu juga dengan kita, jika kita
tidak bisa dengan cara instan, mari kita coba dengan cara perlahan. Berharap
pada seorang yang kita cinta boleh, namun jangan berangan bersama Si dia.
Cantumkan namanya disetiap lembaran do’a yang dipanjatkan “jika memang jodohku,
maka dekatkan ya Allah, namun jika ia bukan jodohku izinkan hati ini berlabuh
dihati orang yang engkau ridhoi”.
Banyak
cara memang kenapa cinta itu bisa bersemi dan hadir kembali. Membuat para
penikmatnya melayang, hingga kehilangan jalan pulang bagaimana menepis rasa
cinta yang hadir. Kebanyakan dari kita hanyut dengan hal ini, namun tak sedikit
juga dari kita bisa melewati ini. Mulai dari pertemuan yang intens dilembaga
maupun dikuliah, sampai intensnya komunikasi yang tak layak kita konsumsi. Ya,
banyak cara syaitan untuk bisa mendapatkan kawan.
Wallahu’alam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar