Kamis, 01 Januari 2015

Rindu Dikala Sendiri



Belum sampai 3 minggu diri ini berpisah dengan saudara-saudara seperjuangan di kampus, rasa rindu ini sudah mulai meluap. Ingin rasanya kembali melakukan aktivitas rutin sebagai aktifitas dakwah dikampus tercinta. Mandi sebelum subuh, shalat, tilawah, rohis, rapat, kuliah, forum gabungan, ifthar, baru kembali lagi kewisma, begitu skema nya,  Setumpuk aktifitas yang terkadang melenakan diri ini terhadap keluarga yang sesungguhnya, namun saudara kembali mengingatkan akan arti sebuah kata dakwah, dakwah yang memiliki ladang yang tidak segelintir saja, namun memiliki ladang yang sangat luas, tidak dikampus saja, namun keluarga yang sesungguhnya adalah ladang dakwah. Alangkah bahagianya jika sebuah keluarga tersentuh oleh tangan dakwah yang dibawakan oleh sang anaknya tercinta.
Namun, kesendirian dan kejama’ahan dalam berdakwah akan mempengaruhi semangat dalam melakukan dakwah tersebut. Ya, ketika diri ini kembali sendiri di ladang dakwah keluarga, rasa rindu berjama’ah itu menggalayuti  fikiran ini, berharap agar situasi ini tidak berlangsung lama, namun cepatlah belalu.
Ini baru liburan, gimana kalau setelah wisuda nanti??? Tidak akan ada lagi sms ,”antum lagi dimana? Rapat sudah mau mulai?”, “lagi dimana akhwat? Mohon langkahnya dipercepat ya...”, “afwan, ana izin telat”, “afwan, ana izin ada agenda wajib”,blablablablablablabla....dan seterusnya,,,  trus apa selanjutnya yang akan dihadapi ba’da kuliah nanti?? Entahlah, entah dengan siapa kita akan ditemukan setelah kebersamaan bersama teman-teman aktivis dikampus telah usai. Wallahu’alam... aku akan selalu merindukan dirimu wahai ukhti, ketahuilah bahwasanya aku mencintai kalian karena Allah.
Bukan lebay ataukah alay, tapi ini ungkapan cinta yang terpendam. Benci, iri yang terukir ketika kita bersama adalah ungkapan dan ekspresi cinta yang tak tersampaikan, ungkapan yang menyatakan bahwa engkau adalah saudara ku. Lihatlah ukhti, kakak kakak kita dirumah, tidakkah ada pertikaian antara kita, nah, seperti itulah kau dan aku.
Ukhti ma’af jika tingkahku selama ini menyakitkanmu..
Aku akan terus belajar memperbaiki diri ini agar tidak mengandung hati yang busuk..
Terimakasih atas pelajaran kehidupan yang telah engkau berikan kepadaku...
Senang jiwa ini dikala aku mengenali dirimu ukhti...
Ana uhibbukifillah ukhti... J

2 komentar:

generasi pembelajar mengatakan...

aku juga akan selalu merindukan dirimu wahai sosol, ketahui jugalah bahwasanya aku mencintai sosol karena Allah. :-)

Unknown mengatakan...

ukhti icizzzzz

aku juga slalu merindukan muuu