Belum
sampai 3 minggu diri ini berpisah dengan saudara-saudara seperjuangan di
kampus, rasa rindu ini sudah mulai meluap. Ingin rasanya kembali melakukan
aktivitas rutin sebagai aktifitas dakwah dikampus tercinta. Mandi sebelum
subuh, shalat, tilawah, rohis, rapat, kuliah, forum gabungan, ifthar, baru
kembali lagi kewisma, begitu skema nya, Setumpuk aktifitas yang terkadang melenakan
diri ini terhadap keluarga yang sesungguhnya, namun saudara kembali
mengingatkan akan arti sebuah kata dakwah, dakwah yang memiliki ladang yang
tidak segelintir saja, namun memiliki ladang yang sangat luas, tidak dikampus
saja, namun keluarga yang sesungguhnya adalah ladang dakwah. Alangkah
bahagianya jika sebuah keluarga tersentuh oleh tangan dakwah yang dibawakan
oleh sang anaknya tercinta.
Namun,
kesendirian dan kejama’ahan dalam berdakwah akan mempengaruhi semangat dalam
melakukan dakwah tersebut. Ya, ketika diri ini kembali sendiri di ladang dakwah
keluarga, rasa rindu berjama’ah itu menggalayuti fikiran ini, berharap agar situasi ini tidak
berlangsung lama, namun cepatlah belalu.
Ini
baru liburan, gimana kalau setelah wisuda nanti??? Tidak akan ada lagi sms
,”antum lagi dimana? Rapat sudah mau mulai?”, “lagi dimana akhwat? Mohon
langkahnya dipercepat ya...”, “afwan, ana izin telat”, “afwan, ana izin ada
agenda wajib”,blablablablablablabla....dan seterusnya,,, trus apa selanjutnya yang akan dihadapi ba’da
kuliah nanti?? Entahlah, entah dengan siapa kita akan ditemukan setelah kebersamaan
bersama teman-teman aktivis dikampus telah usai. Wallahu’alam... aku akan
selalu merindukan dirimu wahai ukhti, ketahuilah bahwasanya aku mencintai
kalian karena Allah.
Bukan
lebay ataukah alay, tapi ini ungkapan cinta yang terpendam. Benci, iri yang
terukir ketika kita bersama adalah ungkapan dan ekspresi cinta yang tak
tersampaikan, ungkapan yang menyatakan bahwa engkau adalah saudara ku. Lihatlah
ukhti, kakak kakak kita dirumah, tidakkah ada pertikaian antara kita, nah,
seperti itulah kau dan aku.
Ukhti
ma’af jika tingkahku selama ini menyakitkanmu..
Aku
akan terus belajar memperbaiki diri ini agar tidak mengandung hati yang busuk..
Terimakasih
atas pelajaran kehidupan yang telah engkau berikan kepadaku...
Senang
jiwa ini dikala aku mengenali dirimu ukhti...
Ana
uhibbukifillah ukhti... J
2 komentar:
aku juga akan selalu merindukan dirimu wahai sosol, ketahui jugalah bahwasanya aku mencintai sosol karena Allah. :-)
ukhti icizzzzz
aku juga slalu merindukan muuu
Posting Komentar